Ada tradisi yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna yang begitu dalam. Menjelang peringatan Hultah NWDI ke-91, suasana di Aula PPD NWDI Pancor kembali dipenuhi semangat gotong royong. Para jamaah bersama-sama membuat dan memasang tetaring di medan Hultah.
Tradisi ini telah diwariskan sejak zaman Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Hingga hari ini, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari persiapan menyambut Hultah, sebuah momentum yang selalu dinanti dan dirindukan oleh jamaah.
Yang menarik, mereka yang datang untuk membuat tetaring bukan hanya berasal dari Desa Pancor. Jamaah datang dari berbagai desa di Lombok Timur. Mereka hadir dengan sukarela, membawa tenaga, waktu, bahkan menyumbangkan kelansah atau anyaman daun kelapa yang kemudian digunakan sebagai atap tetaring.
Secara sederhana, kelansah sebenarnya bisa saja diganti dengan paranet yang lebih tahan lama dan mungkin terlihat lebih rapi. Namun, kelansah tetap dipertahankan. Sebab yang dijaga bukan sekadar bentuk atau bahan atapnya, melainkan nilai yang ada di baliknya: semangat berbagi, gotong royong, dan keikhlasan jamaah.
Mereka tidak hanya menyumbangkan kelansah, tetapi datang sekaligus memasangnya. Ada tangan-tangan yang bekerja, ada keringat yang tercurah, ada canda dan cerita yang menyertai pekerjaan. Semua dilakukan tanpa banyak bertanya tentang apa yang akan diterima, karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana Hultah dapat berjalan dengan baik dan sukses.
Di sinilah kita memahami bahwa membuat tetaring bukan sekadar memasang tempat berteduh.
Ini tentang menyatukan hati dan langkah.
Ini tentang bagaimana jamaah dari berbagai tempat datang dalam satu tujuan, bekerja bersama, saling membantu, dan menumbuhkan kembali rasa persaudaraan. Tetaring menjadi simbol sederhana bahwa sebuah perhelatan besar tidak hanya dibangun oleh panitia, tetapi juga oleh kebersamaan seluruh jamaah.
Alhamdulillah, hari ini gotong royong pemasangan tetaring di medan Hultah berjalan lancar. Semangat para jamaah menjadi pemandangan yang menyejukkan. Mereka datang membawa sumbangsih masing-masing, sekecil apa pun, dengan keyakinan bahwa setiap kebaikan akan menjadi bagian dari keberkahan Hultah.
Terima kasih kepada seluruh jamaah atas segala sumbangsih, tenaga, pikiran, dan keikhlasannya sejak awal persiapan. Semoga setiap langkah, setiap tetes keringat, dan setiap bentuk pengabdian menjadi amal yang bernilai keberkahan.
Sebab pada akhirnya, Hultah bukan hanya tentang sebuah peringatan. Hultah adalah tentang kerinduan, persaudaraan, dan kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dan tetaring yang hari ini berdiri di medan Hultah menjadi salah satu bukti bahwa kerinduan itu masih menyala.
Inilah Hultah yang selalu dirindukan jamaah.
Komentar
0Belum ada komentar untuk artikel ini.