RHN FM 107 MHz
Trending Topik pilihan
Kembali ke daftar berita
Gambar berita: HULTAH KE-91 NWDI: TEGUHKAN IMAN, RAWAT WARISAN, BANGUN GENERASI
Berita

HULTAH KE-91 NWDI: TEGUHKAN IMAN, RAWAT WARISAN, BANGUN GENERASI

MD 13 September 2026 14:09 52 dilihat 0 komentar
Berita


Pancor, 13 September 2026 — Puncak Hultah ke-91 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sekaligus Haul ke-29 Almaghfurulahu Maulana Asy-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berlangsung khidmat di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026).

Mengusung tema “Teguhkan Iman Takwa, Gerak NWDI untuk Kemajuan Ummat dan Keunggulan Bangsa”, kegiatan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah. Sejumlah ulama dan tokoh nasional turut hadir sebagai penceramah, yakni TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA, Prof. Dr. Ustadz Abdul Somad, Lc., PhD, Al-Habib Jindan Bin Naufal Bin Salim Bin Jindan, serta Prof. Dr. Ala Musthafa Na'imah.

Ketua YPHPPD NWDI Pancor, H. Muhammad Djamaluddin, dalam sambutannya melaporkan rangkaian kegiatan pra-Hultah yang telah dimulai sejak 30 Agustus 2026. Salah satu agenda terbesar adalah Pawai Ta'aruf yang berlangsung selama dua hari, 11–12 September 2026.

Ia menyampaikan terima kasih secara khusus kepada masyarakat Pancor yang telah menerima dan menyambut para jamaah yang datang dari berbagai daerah.

“Terima kasih kepada masyarakat Pancor yang telah menyambut kehadiran para jamaah dengan penuh keramahan,” ujarnya.

Menghidupkan Kembali Warisan Keilmuan Maulana Syaikh

Prof. Dr. Ala Musthafa Na'imah dalam sambutannya mengajak jamaah mengenal kembali sosok dan warisan keilmuan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Menurutnya, mengenang Maulana Syaikh tidak cukup hanya dengan mengingat nama dan jasa beliau. Yang lebih penting adalah melestarikan serta meneruskan ajaran, manhaj, dan tradisi keilmuan yang telah diwariskan.

Ia menilai salah satu keistimewaan Maulana Syaikh adalah kemampuannya mengintegrasikan tradisi pendidikan Islam klasik dengan metode Al-Azhar Al-Syarif.

Maulana Syaikh, katanya, memiliki kemampuan memadukan khazanah ilmu terdahulu dengan ilmu kontemporer. Lebih dari itu, beliau mampu melahirkan generasi dan komunitas yang bersatu untuk mengamalkan ilmu dalam kehidupan.

Kemampuan itulah yang membuat ilmu Maulana Syaikh berkembang luas hingga beliau dikenal dengan julukan “Abul Madaris wal Masajid.”

Prof. Ala juga menguraikan tiga aspek penting dalam warisan Maulana Syaikh, yakni dakwah, tasawuf, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

Dakwah Maulana Syaikh, menurutnya, memiliki semangat global. Sejak menuntut ilmu, beliau telah berinteraksi dengan ulama dari berbagai wilayah. Tradisi itu kemudian terus dilanjutkan oleh generasi penerus, termasuk TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, yang menuntut ilmu di berbagai negara sekaligus menghadirkan ulama dari berbagai penjuru dunia untuk berbagi ilmu di Lombok.

Ulama Mewariskan Ilmu dan Keteladanan

Sementara itu, Al-Habib Jindan Bin Naufal Bin Salim Bin Jindan mengingatkan jamaah bahwa ulama adalah pewaris para nabi.

Warisan para nabi, katanya, bukan berupa harta, emas, ataupun perak, melainkan ilmu. Namun ilmu yang diwariskan bukan sekadar teori, melainkan ilmu yang menyatu dengan amal, ketakwaan, dan rasa takut kepada Allah SWT.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa pendidikan Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.

UAS: Jangan Sekadar Mengantar Anak ke Sekolah

Prof. Dr. Ustadz Abdul Somad dalam tausiyahnya menyampaikan pesan tentang pentingnya orang tua mendampingi pendidikan anak.

Dengan gaya khasnya, UAS membuka sambutan dengan humor ringan.

“Dari bunyi salam sepertinya jamaah belum makan,” katanya, yang disambut tawa dan tepuk tangan jamaah.

UAS kemudian mengisahkan perjalanan Tuan Guru Abdul Madjid yang mengantarkan putranya menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan dilakukan dengan kapal laut, menghadapi ombak dan gelombang hingga akhirnya sampai ke Tanah Suci.

Di sana, Tuan Guru Abdul Madjid mencari guru terbaik dan menyerahkan pendidikan anaknya kepada Syekh Hasan Al-Mashab.

Dari kisah tersebut, UAS menekankan satu pelajaran penting: orang tua tidak cukup hanya mengantarkan anak mendaftar sekolah, mendapatkan kartu mahasiswa, kemudian pulang. Anak harus didekatkan dengan guru dan lingkungan yang baik.

“Jangan hanya sekadar mengantar, mendaftarkan, mendapatkan kartu mahasiswa lalu pulang. Dekatkan anak dengan syekh, dengan guru,” pesan UAS.

Ia juga mengajak para orang tua untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi setelah mereka.

“Jangan mati sebelum meninggalkan heritage. Apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang setelah kita?” katanya.

Bagi UAS, warisan terbesar bukan hanya harta, tetapi ilmu, lembaga pendidikan, keteladanan, dan generasi yang meneruskan kebaikan.

Hultah Bukan Sekadar Seremonial

UAS juga menegaskan bahwa Hultah dan Haul bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum mempererat silaturahmi.

Ia menceritakan pertemuannya dengan TGB pada malam sebelumnya. Meski sehari sebelumnya telah mengisi tausiyah di lima lokasi dan dalam kondisi lelah, pertemuan dengan orang-orang yang dicintai justru memberikan semangat baru.

Ia juga menyampaikan bahwa persahabatan sejati akan terlihat ketika terjadi perbedaan pendapat.

Menurutnya, ketika berada dalam perbedaan, seseorang akan memperlihatkan sifat aslinya. Ia mengaku bersyukur dapat bersahabat dengan TGB tanpa pernah saling menyerang atau mengeluarkan kata-kata kasar.

“Ketika kita bisa berjalan bersama di jalan Allah SWT, berteman dan bersahabat di dunia, mudah-mudahan bersaudara hingga ke surga,” ujarnya.

TGB: Wariskan Apa yang Telah Diwariskan

Sementara itu, TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi mengajak seluruh jamaah, khususnya murid dan sahabat perjuangan Maulana Syaikh, untuk bersama-sama menjaga dan meneruskan warisan perjuangan beliau.

Menurut TGB, keberkahan perjuangan NWDI akan terus mengalir apabila generasi hari ini tidak hanya mengenang guru, tetapi juga meneruskan apa yang telah diwariskan.

Ia menekankan bahwa salah satu asas pendidikan yang dijalankan Maulana Syaikh adalah membangun manusia, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.

Konsep tersebut, kata TGB, sejalan dengan misi Rasulullah SAW dalam mendidik umat. Rasulullah tidak hanya mengajarkan ilmu secara umum, tetapi mendidik para sahabat satu demi satu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

TGB menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW mendidik Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, keluarga beliau, serta para sahabat yang datang kepada beliau secara bertahap.

“Pendidikan bukan hanya mengajar membaca, tetapi membangun jiwa manusia,” pesan TGB.

Puncak Hultah ke-91 NWDI dan Haul ke-29 Maulana Syaikh akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia menjadi ruang untuk mengenang jasa, mempertemukan jamaah, menyegarkan kembali ingatan terhadap warisan keilmuan, sekaligus meneguhkan tekad untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Dari Pancor, pesan itu kembali ditegaskan: iman dan takwa menjadi fondasi, ilmu menjadi bekal, persatuan menjadi kekuatan, dan pengabdian kepada umat serta bangsa menjadi jalan perjuangan.

Komentar

0